Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Penting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Penting. Tampilkan semua postingan

Pemeriksaan Kimia Darah/Serum untuk Penyakit Jantung

Sumber gambar:Wikipedia

Jantung adalah sebuah organ berongga dan berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang.Penyakit jantung merupakan suatu kondisi yang menyebabkan Jantung tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.Penyakit jantung dapat didiagnosis melalui pemeriksaan kimia darah/serum.Pemeriksaan kimia darah atau serum melihat ada tidaknya peningkatan kadar (diatas normal) enzim spesifik yang hanya diproduksi dalam sel jantung. Dibawah ini ada beberapa jenis pemeriksaan kimia darah/serum untuk penyakit jantung.

1. CK/CPK (Creatin Posfo Kinase)

Creatin Posfo Kinase merupakan senyawa protein yang terposforisasi dan menjadi katalisator transfer posfat ke ADP (Energi). Enzim ini berkonsentrasi tinggi di Otot Jantung dan Otot Rangka. Enzim ini juga berada dalam Otak,tapi konsentrasinya rendah. Kadarnya meningkat dalam serum 6 jam setelah infrak, mencapai puncaknya 16-24 jam, Kembali ke normal setelah 72 jam.

Nilai Normal :

Pria : 5-35 Ug/ml atau 30 -180 IU/L

Wanita: 5-25 Ug/ml atau 25-150 IU/L

Anak Laki-laki :0-70 IU/L

Anak Wanita: 0-50 IU/L

Kondisi-kondisi yang Dapat Meningkatkan Kadar enzim CK :

-Peningkatan 5x atau lebih dari nilai normal : Infrak jantung, polimiositis, distropia muskularis duchene

-Peningkatan ringan/sedang (2-4X nilai normal): Kerja berat, trauma, tindakan beedah, injeksi , miopati allkoholika, Infark miocard/iskemik berat, Infark paru/edeme paru

-Dengan hipitiriodisme : Psikosis akut,

Peningkatan CK/CPK merupakan indikator penting kerusakan Miokardium

2. CKMB (Creatin Kinase label M dan B)

Jenis enzim yang terdapat banyak pada jaringan terutama otot, Miocardium, dan Otak. Ada 3 jenis isoenzim kretin kinase dan duberi label M (Musculus) dan B (Brain), yaitu :

Isoenzim BB : banyak terdapat di Otak

Isoenzim MM: Banyak terdapat di otot

Isoenzim MB : Banyak terdapat di Miocardium bersama MM

Otot bergaris berisi 90% MM dan 10% MB

Otot jantung berisi 60%MM dan 40% MB

Nilai Normal: Kurang dari 10 IU/L

Kondisi-kondisi yang meningkatan enzim CKMB : Terjadi pada angina pertosis, operasi jantung, iskemik jantung, miokarditis, hipokalemia, debrifilasi jantung

Peningkatan enzim CKMB dalam serum menjadi indikator terpercaya adanya kerusakan jaringan pada jantung.

3. LDH (Laktat Dehidrogenase)

LDH (Laktat Dehidrogenase) adalah enzim yang melepas hydrogen dari suatu zat dan katalisator proses konversi laktat menjadi piruvat. Enzim ini tersebar luas terutama dijaringan ginjal, rangka, hati, dan miokardium. LDH mmeningkat sampai puncak 24-48 jam stelah infark,dan tetap abnormal 1-3 minggu kemudian.

Nilai normal : 80-240 U/L

Kondisi yang dapat meningkatkan kadar enzim LDH :

1. Peningkatan 5x atau lebih dari 5x nilai normal : Anemia megaloblastik, Karsinoma metastasis, Shok hipoksia, hepatitis, Infark ginjal

2. Peningkatan sedang (3-5x nilai normal) : Miokard Infark, Infark Paru , Kondisi hemolitik, leukima, infeksi mononucleosis, delirium tremens, distrofia otot

3. Peningkatan ringan (2-3x nilai normal): Penyakit hati, nefrotik sindrom, hipotirodisme, kolangitis

Peningkatan kadar LDH menandakan adanya kerusakan jaringan.

4. Troponin

Merupakan komplek protein otot globuler dari pita I yang menghambat kontraksi dengan memblokade interkasi aktin dan myosin. Apabilabersenyawa dengan Ca++ ,akan mengubah posisi molekul tropomiosin hingga terjadi interaksi aktin-miosin.

Protein regulator ini terletak didalam apparatus kontraktil myosin, dan mengandung 3 sub unit dengan tanda T, I, C.

Nilai Normal : < 0.16 mikrogram/L

Kondisi-kondisi yang dapat meningkatkan Troponin : Peningkatan troponin menjadi petanda positif cedera sel miokardium dan potensi terjadi angina

Referensi: Mengenal Penyakit Melalui pemeriksaan Laboratorium (Sutedjo SKM)

Jika anda merasa merasa isi Blog ini bermanfaat, bantulah kami untuk mendukung keberadaannya dengan Meng-Klik salah satu Iklan Baris atau Iklan Gambar yang Ada..

Satu Klik dari anda sangat berarti bagi Blog ini

Trimakasih atas bantuannya…..

Ulasan Singkat Mengenai Racun Ular

(Sumber:https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgv_jFz0uUA6eMqsOBzyVhynQFOkDVtCByqV4ZJjIiGjY_kXqVgHqIbDbts5CkWx0VN7Tjq4Sep5-9b85IxPPrFp1uuqtJn1gzRTDArXCnwOVphrYebJrRYongeXIW610nKhcz3bsBkgw7Q/s1600/cobra.JPG)

Racun ular yang disebut juga dengan Bisa atau Toksin Ular, merupakan komponen tubuh ular yang berfungsi sebagai sistim senjata dan beladiri yang efektif dan efesien, selain itu juga dapat berguna untuk melumpuhkan mangsa yang akan dijadikan bahan makanan.

Racun ular terdiri atas bahan kimia dan enzim, yang 90% terdiri dari protein.

Ada 2 jenis Racun ular, yaitu

1. Neurotoksin : Dapat melumpuhkan sistim saraf pusat, melumpuhkan jantung dan sarah pernafasan. Racun jenis ini dimiliki oleh ular Kobra, ular Mamba, ular Laut, Krait, Ular Karang.

2. Hemotoksin: Dapat menyerang sistim sirkulasi darah dan sistim otot dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan, gangrene, kelumpuhan permanen kemapuan bergerak otot. Racun jenis ini dihasilkan oleh keluarga ular Viperidae misalnya Rattle Snake, Coppe head, dan Cotton mouth.

Beberapa jenis ular memiliki Neurotoksin ataupun Hemotoksin.

Sampai saat ini dikenal sekitar 20 jenis enzim yang beracun. Umumnya ular berbisa memiliki 6 sampai 12 jenis enzim dalam bisanya. Masing masing berfungsi khusus, misalnya untuk mencerna mangsa, sedangkan enzim yang lain untuk melumpuhkan mangsa.

Beberapa Jenis enzim yang dimiliki ular berbisa:

1. Cholinesterase : Neurotoksin dan dapat melumpuhkan mangsa

2. Amino Acid Oxidase : Berfungsi mencerna mangsa dan memicu peran enzim lainnya.

3. Hyaluronidase : Berfungsi untuk mempermudah penyerapan enzim lain kejaringan korban.

4. Proteinase: Berfungsi untuk mencerna, mengahancurkan jaringan tubuh korban.

5. Adenosin Triphospatase : Diduga neurotoksin yang bekerja sentral dan menyebabkan korban mengalami syok dan melumpuhkan mangsa.

6. Phospodiesterase : Bekerja dengan cara mengganggu fungsi jantung dan menurunkan tekanan darah dengan cepat.

Racun ular sangat berbahaya,memicu manusia untuk membuat penangkalnya. Penangkal racun ular yang disebut dengan antiracun atau antivenin dihasilkan dengan metode ‘Horse Serum (Serum Kuda)’.

Horse Serum : Racun ular disuntikkan kedalam tubuh kuda, secara berlahan akan terbentuk anti bodi terhadap racun ular tersebut. Serum dipisahkan dari darah kuda.

Namun sepertiga penerima serum kuda mengalami reaksi alergi.Oleh karena itu perlu prosedur standard untuk menuji kepekaan serum sebelum diberikan kepada penderita gigitan ular.

Selain untuk memproduksi antivenin, bisa ular ternyata dapat digunakan untuk bidang kesehatan dan kedokteran lain, seperti :

1.Racun Ular Copperhead : Mengobati penderita kanker payudara

2. Racun Malayan Pit Viper: Dimanfaatka untuk mencegah pembekuan darah, mungkin bermanfaat untuk penderita sroke

3. Enzim racun Kobra: sedang diteliti untuk mencegar penyakit Parkinzon, Alzeimer, serta leukemia dan kanker.

4. Racun Ular Viper: Diduga dapat mengatasi osteoporosis dan memperkecil tumor tertentu

5. Beberapa jenis ekstrak bisa ular digunakan untuk antikoagulan, penyakit, mengobati penyakit jantung atau darah tinggi.

Sumber: Sinopsis Kedokteran Tropis (Soedarto)

Jika anda merasa merasa isi Blog ini bermanfaat, bantulah kami untuk mendukung keberadaannya dengan Meng-Klik salah Iklan Baris atau Iklan Gambar yang Ada..

Apakah itu Radang (Inflamasi)?

Peradangan merupakan respon terhadap cedera. Arti khususnya, peradangan adalah reaksi vascular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut dan sel-sel dari sirklasi darah ke jaringan interstitial pada daerah cedera atau nekrosis. Peradangan sebenarnya adalah gejala yang menguntungkan dan pertahanan, hasilnya adalah netralisasi dan pembuangan agen-agen penyerang, penghancur jaringan nekrosis, dan pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan.

Pada proses peradangan terjadi pelepasan histamine dan zat-zat humoral lain kedalam cairan jaringan sekitar.

Sekresi histamine mengakibatkan :

1.Peningkatan aliran darah lokal

2.Peningkatan permeabilitas kapiler

3.Permembesan arteri dan fibrinogen dalam jaringan interstitial

4.Edema ektraseluler

5.Pembekuan cairan ekstraseluler dan cairan limfe.

Proses Terjadinya Peradangan

Pada setiap luka jaringan, mula-mula akan terjadi dilatasi lokal dari arteriole dan kapiler sehingga plasma akan merembes keluar. Selanjutnya cairan edema akan berkumpul didaerah sekitar luka, kemudian fibrin membentuk semacam jala, struktur ini menutupi saluran limfe sehingga penyebaran mikroorganisme dapat dibatasi. Dalam proses imflamasi terjadi phagositosis, mula-mula phagosit, membungkus mikroorganisme, kemudian di digesti dalam sel. Selanjutnya akan keluar protease seluler yang menyebakan lisis leukosit. Setelah itu makrofak nuclear besar akan tiba dan membungkus sisa leukosit. Akhirnya terjadi pencairan yang merupakan hasil proses inflamasi lokal. Cairan kaya protein dan sel darah putih yang tertimbun dalam ruang ekstraseluler disebut dengan eksudat

Tanda-tanda Kardinal Peradangan

Pada peradangan akut, dapat dilihat dari tanda-tanda pokok (Tanda-tanda Peradangan)

1.Kemerahan (Rubor) : Kemerahan atau Rubor biasanya merupakan hal yang pertama dilihat di daerah yang mengalami peradangan.

2.Panas (Kalor) : Panas atau kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan yang hanya terjadi pada permukaan tubuh yang dalam keadaan normal 37C( suhu dalam tubuh). Hal ini disebabkan karena darah lebih banyak disalurkan di daerah peradangan dibandingkan daerah yang normal.

3.Rasa Sakit (Dolor)

Rasa sakit terjadi karena adanya ransangan saraf. Rangsangan saraf sendiri sapat terjadi akibat perubahan pH lokal, perubahan konsentrasi ion-ion tertentu, atau pengeluaran zat-zat kimia bioaktif lainnya. Selain itu, pembengkakan jaringan yang mengakibatkan peningkatan tekanan lokal juga dapat menimbulkan rasa sakit.

4. Pembengkakan (Tumor)

Pembengkakan ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Campuran cairan dan sel yang tertimbun didaerah peradangan disebut dengan eksudat.

5. Fungsio Lasea

Perubahan fungsi atau fungsio lasea adalah reaksi reaksi peradangan yang telah dikenal. Sepintas mudah dimengerti, mengapa bagian yang bengkak, nyeri yang disertai sirkulasi abnormal dari lingkungan kimiawi yang abnormal, berfungsi abnormal. Namun sebetulnya tidak diketahui secara mendalam dengan cara apa fungsi jaringan meradang terganggu.

Jenis Radang

1.Radang Kataral

Terbentuk diatas permukaan mukosa, dimana terdapat sel-sel yang mensekresikan musin. Eksudat musin yang terkenal adalah ‘Puck’ yang banyak menyertai infeksi pernafasan bagian atas.

2.Radang Pseudomembran

Istilah ini dipakai untuk reaksi radang pada permukaan selaput lendir, ditandai dengan pembentukan eksudat berupa lapisan selaput superficial, mengandung agen penyebab, endapan fibrin, sel-sel nekrotik aktif, dan sel-sel darah putih radang. Radang membranosa sering ditemui dalam orofaring, trachea, bronkus, dan traktus intestinal.

3. Ulkus

Terjadi bila bagian permukaan jaringan hilang. Sementara jaringan sekitarnya meradang, contohnya sariawan.

4. Abses

Abses adalah lubang yang berisi nanah dalam jaringan.

5.Radang Purulen

Radang purulen terjadi akibat infeksi bakteri. Terjadi pada cedera aseptis dan dapat terjadi dimana-mana pada tubuh yang jaringanya telah nekrotik.

6. Flegmon

Radang purulen yang meluas secara difuse pada jaringan

7.Radang Supuratif

Radang supuratif adalah radang yang menimbulkan nekrosis luquaktif. Nekrosis luquaktif adalah jaringan nekrosis yang sedikit demi sedikit mencair akibat enzim. Infeksi supuratif lokal disebabkan oleh banyak macam bakteri yang secara kolektif diberi nama piogen (Pembentukan nanah). Perbedaan penting antara radang supuratif dan radang purulen bahwa pada radang spuratif terjadi nekrosis luquaktif pada jaringan dasar.

Reaksi Sistemik Pada Peradangan

1. Demam

Demam terjadi akibat pelepasan zat pirogen endogen berasal dari netrofil dan makrofag. Selanjutnyaa zat tersebut

2. Perubahan Hematologis

Peradangan dapa mempengaruhi mempengaruhi maturasi dan pengelaran leukosit dari sum-sum tulang yang mengakibatkan kenaikan jumlah lekosit, yang disebut dengan leukositosis. Perubahan protein tertentu juga terjadi bersamaan dengan perubahan Laju Endap Darah (KED).

3. Gejala Konstitusional (Gejala Tidak Sehat Secara Umum)

Pada cedera hebat terjadi perubahan metabolisme dan endokrin sehingga reaksi peradangan lokal sering diiringi gejala konstisusional berupa malaise (Lemah/lesu), anorexia (tidak nafsu makan), tidak mampu melakukan pekerjaan yang berat, sampai tidak dapat melakukan apapun.

Sumber : Materi Kuliah Patofisiologi

Laboratorium Klinik

Mendengar kata laboratorium apa yang akan melintas dipikiran teman-teman?

-Tempat melaksanakan penelitian atau eksperimen

-Orang yang beraktifitas di sana adalah peneliti atau mahasiswa

-Mekanisme kerja yang rumit

-Menggunakan alat alat yang sukar dipahami

-Butuh intelegenisa yang tinggi untuk dapat bekerja disana

Beberapa jawaban diatas jika digabungkan akan memberikan gambaran umum tentang laboratorium. Laboratorium merupakan suatu tempat untuk peneliti melakukan riset (penelitian) atau eksperimen, menemukan suatu hal yang baru dan mendapat jawaban dari keingin tahuan mereka secara ilmiah. Bagi orang awam yang tidak memiliki basic mengenai kelaboratoriuman, semua kegiatan disana akan terlihat sangat rumit. Perlatan-peralatan dilaboratorium hampir takkan pernah kita dijumpai sehari-hari, sehingga tidak bisa dipelajari secara otodidak. Kegiatan di laboratorium membutuhkan skill dan pengetahuan yang tinggi. Namun bila dipelajari akan bisa menjalaninya. Laboratorium tempat untuk mempraktekan teori dari buku-buku, sehingga prinsip-prinsip kerja dapat dipelajari secara teoritis. Sementara itu, untuk menjadi terampil sangat tergantung dari seberapa seringnya melakukan praktek.

Ada banyak jenis dari laboratorium, tergantung dari ilmu yang diterapkan disana seperti laboratorium biologi, laboratorium kimia, laboratorium fisika, dan laboratorium yang akan di bahas dalam tulisan ini yaitu “Laboratorium Klinik”.

Laboratorium Klinik.

Kegiatan di Laboratorium Klinik

Dari namanya pastilah laboratorium ini berhubungan dengan kesehatan. Akantetapi, apakah laboratorium klinik tempat menelitian atau bereksperimen??. Laboratorium klinik merupakan tempat melakukan berbagai macam pemeriksaan menggunakan spesimen medis (bahan) dari tubuh pasien untuk mendapat informasi kesehatannya. Penelitian atau ekperimen sebenarnya bisa dilakukan disini, tapi sangat jarang karena tujuan utamanya untuk mendapat informasi kesehatan pasien untuk membantu dokter menentukan diagnosis. Semua pemeriksaan sudah ada Prosedur Tetap (Protap) dan jenis yang akan dilakukan ditentukan oleh dokter pengirim spesimen. Dokter tidak bisa menentukan diagnosis pasti penyakit pasien jika tidak ada hasil pemeriksaan laboratorium.

Apakah Itu Demam?

Demam adalah peningkatan titik patokan (set point) suhu di hipotalamus, hipotalamus adalah bagian otak memiliki fungsi yang sangat peka terhadap steroid, glukokortikoid, glukosa, dan Suhu. Dengan meningkatnya patokan suhu tersebut, maka hipotalamus mengirim sinyal untuk meningkatkan suhu tubuh.

Demam timbul sebagai respon terhadap pembentukan Sitokin seperti interleukin-1, interleukin-6, dan factor nekrosis tumor. Sitokin disebut Pirogen endogenik ( penghasil panas). Sitokin dilepaskan oleh beberapa sel yang berbeda, termasuk monosit, makrofag, sel T helper, fibroblast dalam berespon terhadap infeksi atau cedera ringan. Pirogen menyebabkan deman dengan menghasilkan prostaglandin, mungkin PEG, yang meningkatkan titik patokan termoregulasi hipotalamus.

Akurasi dan Presisi

Hasil Laboratorium untuk menentukan diagnosis, pemantauan pengobatan, dan memprediksi prognosis, maka sangat perlu untuk menjaga mutu hasil pemeriksaan, dalam arti mempunyai tingkat akurasi dan presisi yang dapat dipertanggung jawabkan.

Akurasi (Ketepatan)

Nilai akurasi menunjukan kedekatan hasil terhadap nilai sebenarnya yang telah ditentukan oleh metode standar.

Salah satu cara penilaian Akurasi yaitu dengan studi "Recovery" yaitu dengan melakukan pemeriksaan bahan sampel yang telah ditambah analit murni, kemudian hasil dihitung terhadap hasil yang diharapkan:

Akurasi metode yang lebih baik adalah yang memberikan nilai R yang mendekati 100%.

Kesalahanyang berubungan dengan Akurasi yaitu Kesalahan Sistematik.

Kesalahan sistematik dapat disebabkan oleh standar, kalibrasi, atau instrument yang tidak baik.

Presisi

Nilai presisi menunjukan seberapa dekat suatu hasil pemeriksaan bila dilakukan berulang dengan sampel yang sama. Presisi biasanya dinyatakan dalam nilai koefesien variasi(%KV atau % CV)

SD = Standar deviasi

Xbar=Rata-rata hasil pemeriksaan

Semakin kecil nilai KV(%) semakin teliti sistem/metode tersebut dan sebaliknya

Kesalahan yang berhungan dengan nilai presisi adalah kesalahan Acak (Random error)

Kesalahan acak mungkin disebabkan ketidak stabilan, misalnya pada penagas,reagen,pipet,dll.

Suatu metode yang baik adalah yang memiliki presisi dan akurasi yang baik.

Gambaran Akurasi dan Presisi

Sumber Bacaan: Pedoman Praktek Laboratorium Yang Benar


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More