Tampilkan postingan dengan label Lab Hematologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lab Hematologi. Tampilkan semua postingan

Pemeriksaan Laboratorium Retikulosit




 
Gambar Retikulosit dalam Pewarnaan BCB
(Atlas  Hematologi Krzysztof Lewandowski, MD dan Andrzej Hellmann, MD)
Retikulosit adalah sel darah merah yang masih terdapat pecahan inti (RNA, organela, dan mitokondria) yang berbentuk seperti jala. Retikulosit berukuran lebih besar dari eritrosit dan berwarna lebih biru. Ciri-ciri Morfologi : Ukuran : 8 - 12 mm, Bentuk: bulat, Warna sitoplasma: pucat,Granularitas:granul tunggal atau multipel, pekat,lembayung, Bentuk inti: tidak ada, Distribusi dalam darah: 0.5 - 1.5 % dari jumlah eritrosit

Metode           : Supravital staining
Prinsip            :
Ke dalm darah dimana sel-sel darah dalam keadaan hidup ditambahkan larutan BCB selam beberapa menit. Kemudian dibuat sediaan apus tipis dan dihitung sel-sel retikulosit secara mikroskopik. Prosentase retikulosit ditentukan terhadap sejumlah eritrosit.
Reagensia      :
Larutan Brillian Cresyl Blue (BCB)
-        New Methylen Blue    1 gram
-        Larutan Citras Saline  100 ml
Larutan Citras Saline berisi campuran : Natrium Citrate 30 g/L 1 bagian dan NaCl 9 g/L 4 bagian.
Alat-alat          :
-       Objek glass
-       Tabung reaksi
-       Pipet 100 µL dan 50 µL
-       Mikroskop
-       Cell counter

Spesimen       : Darah EDTA
Cara kerja      :
1.    100 µL darah dimasukkan dalam tabung reaksi ditambah 50 µL larutan BCB, dicampur hingga homogen, didiamkan selama 15-20 menit
2.    Campur dibuat sediaan apus tipis pada obyek glass dan dibiarkan mongering diudara.
3.    Menghitung jumlah retikulosit secara mikroskopik dengan perbesaran kuat (100X).
Perhitungan   :
1.    Jumlah retikulosit dihitung dalam 1000 sel eritrosit
2.    Prosentase retikulosit dihitung dengan rumus :
 = N/1000 X 100%                       
Nilai normal   : 0,5 – 1,5 %

Interpretasi Hasil :
Peningkatan jumlah retikulosit yang disertai kadar HB normal mengindikasikan adanya penghancuran atau penghilangan eritrosit berlebihan yang diimbangi dengan peningkatan sum-sum tulang. Peningkatan retikulosit disertai dengan kadar HB yang rendah menunjukkan bahwa respon tuubuh terhadap anemia tidak adekuat. Penyakit yang disertai peningkatan jumlah retikulosit antara lain anemia hemolitik, anemia sel sabit, talasemia mayor, leukimia, eritroblastik feotalis, HBC dan D positif, kehamilan, dan kondisi paska pendarahan berat.

Penurunan jumlah retikulosit yang seharusnya tinggi terjadi pada krisis aplastik yaitu kejadian dimana destruksi eritrosit tetap berlangsung sementara produksi eritrosi terhenti, misalnya pada anemia hemolitik kronis karena HBS, anemia pernisiosa, anemia defisiensi asam folat, anemia aplastik, terapi radiasi, hipofungsi andenocortical, hipofungsi hipofise anterior, dan sirosis hati.

Resferensi :
Sutedjo, AY. 2006.Mengenal Penyakit Melalui Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta:Amara Books.
Atlas  Hematologi Krzysztof Lewandowski, MD dan Andrzej Hellmann, MD

 


Nilai Eritrosit Rata-rata (Indeks Eritrosit)

Nilai Eritrosit rata-rata (ing: Mean Corpuscular Value) atau disebut juga indeks eritrosit  adalah nilai-nilai yang memberi keterangan mengenai rata-rata ukuran eritrosit dan banyaknya hemoglobin pereritrosit. Nilai yang banyak dipakai adalah :
1. Mean Corpuscular Volume (MCV) = Volume Eritrosit Rata-rata (VER)
2. Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH) = Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (VER)
3.Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) = Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit  Rata-rata (KHER)
Penjelasan dari nilai-nilai tersebut, yaitu sebagai berikut :
1.Mean Corpuscular Volume (MCV) = Volume Eritrosit Rata-rata (VER): 
   volume rata-rata sebuah eritrosit dalam femtoliter (Fl)
Cara Perhitungan :
MCV (VER) = Nilai Hematokrit (Hmt) /Jumlah Eritrosit (AE) X 10 Fl

Nilai Normal : 82-92 Fl

Interpretasi Hasil :
Penurunan MCV (VER) terjadi pada pasien anemia mikrositik, Defisiensi besi, arthritis   rheumatoid, talasemia, anemia sel sabit, HBC, keracunan timah, dan radiasi.
Peningkatan MCV (VER) terjadi pada pasein

Peningkatan MCV terjadi pada anemia aplastik, anemia hemolitik, anemia pernisiosa, anemia defisiensi asam folat, penyakit hati kronis, hipotiroidisme, efek obat vitamin B12, antikonvulsan, dan antimetabolik

2. Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH)  = Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (VER)
    Banyaknya hemoglobin pereritrosit dalam Pikogram (Pg)
   
    Cara Perhitungan :
    MCH (HER) = Kadar HB (g%)/Jumlah Eritrosit (AE) X 10 Pg

  Nilai Normal : 27-31 Pg

  Interpretasi Hasil :
  Penurunan MCH (HER) terjadi pada anemia mikrositik, dan anemia hipokromik
  Peningkatan MCH (HER) terjadi pada anemia defisiensi besi

3.  Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration  (MCHC) = Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit     Rata-rata (KHER)
Konsentrasi/kadar hemoglobin yang didapat pereritrosit, dinyatakan dalam persen (%). Meskipun dinyatakan dalam persen (%), satuan lebih lebih tepat “gram hemoglobin per dl eritrosit”.

Cara Perhitungan :
     MCHC (KHER) = Kadar HB (g%)/ Nilai Hematokrit (Hmt) X 100
    
     Nilai Normal : 32- 37 %

     Interpretasi Hasil :
     Penurunan MCHC terjadi pada anemia hipokromik dan talasemia
     Peningkatan MCHC terjadi pada penderita defisiensi zat besi

Referiensi :
Sutedjo, AY. 2006.Mengenal Penyakit Melalui Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta:Amara Books.
Gandasoebrata, R. 1968. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat.

Bilik Hitung Improved Neubauer

Walaupun sudah tidak kuliah dan masih belum bekerja, tapi belajar terus berlanjut. Adanya blog ini mendorongku untuk tetap belajar. Blog tidak akan ada artinya bila tidak ada posting-an, Mau posting harus ada bahan, agar dapat bahan postingan ya harus baca, membaca adalah salah satu cara belajar ya kan ?.Moga-moga aja ada yang nyangkut di otak,amiin….

Materi belajar hari ini adalah ‘Bilik Hitung’

Gambar : Bilik Hitung 'Tanda Panah' (sumber:http://akdarbakin.wordpress.com/2011/05/31/jumlah-lekosit/)

Dalam laboratorium klinik Bilik Hitung adalah alat yang berguna untuk menghitung sel darah. Saat digunakan untuk pemeriksaan hitung sel darah,bilik hitung harus di beri kaca penutup ’Deck glass’.

Ada beberapa jenis bilik hitung tapi yang sebaiknya digunakan adalah bilik hitung yang menggunakan garis bagi ‘Improved Neubauer’.

Gambar: Garis Bagi pada Bilik Hitung Improved Neubauer (sumber:http://www.sodiycxacun.web.id/2010/08/cara-pemeriksaan-hitung-jumlah-leukosit.html#axzz1dBbsTo8C)

Pada bilik hitung ‘Improved Neubauer’ luas seluruh bidang adalah 9 mm2 dan bidang ini dibagi menjadi 9 ‘Bidang Besar’ yang masing-masing bidang memiliki luas 1 mm2 . Bidang Besar di bagi menjadi 16 ‘Bidang Sedang’,yang luasnya masing-masing ¼ x ¼ mm2. Bidang besar yang letaknya ditengah–tengah pembagiannya berbeda, yaitu di bagi menjadi 25 bidang,luas masing bidang 1/5 x 1/5 mm2 dan bidang itu dibagi lagi menjadi 16 bidang kecil. Dengan demikian jumlah seluruh bidang kecil itu seluruhnya 400 buah dengan luas 1/20 x 1/20 mm2 .

Tinggi Bilik hitung, yaitu jarak antara permukaan yang bergaris dengan kaca penutup yang terpasang adalah 1/10 mm.

Maka Volume ditiap-tiap bidang sebagai berikut:

1 bidang kecil = 1/20 x 1/20 x 1/10 = 1/4000 mm3

1 bidang sedang = 1/4 x 1/4 x 1/10 = 1/160 mm3

1 bidang besar = 1 x 1 x 1/10 = 1/10 mm3

Volume seluruh bidang = 3 x 3 x 1/10 = 0.9 mm3

Volume bidang untuk pemeriksaan jumlah sel darah:

-Pemeriksaan Jumlah Leukosit (4 bidang besar)

1 x 1 x 1/10 x 4 = 0.4 mm3

-Pemeriksaan jumlah eritrosit (5 bidang ditengah)

1/5 x 1/5 x 1/10 x 5 =0,02 mm3

-Pemeriksaan jumlah trombosit (10 bidang ditengah)

1/5 x 1/5 x 1/10 x 10=0.04 mm3

Untuk menghitung jumlah sel eosinofil dalam darah sering digunakan bilik hitung yang volumenya yang lebih besar, yaitu bilik hitung “Fuch-Rosental”. Ukuran seluruh bidang dibagi 4 mm x 4 mm, dengan tinggi 2/10 mm,sedangkan garis-garisnya berlainan lagi.

Referensi: Penuntun Laboratorium Klinik (Ganda Soebrata).

Jika anda merasa merasa isi Blog ini bermanfaat, bantulah kami untuk mendukung keberadaannya dengan Meng-Klik salah Iklan Baris atau Iklan Gambar yang Ada..

Antikoagulan untuk Pemeriksaan Hematologi

Tabung hampa udara (vacutainer tube) yang berisi Antikoagulan EDTA (Tutup Ungu) dan Natrium Sitrat (Tutup Biru)

Antikoagulan adalah bahan yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah. Pemeriksaan di dalam laboratorium klnik tidak hanya satu atau dua, tetapi banyak pemeriksaan, tergantung pada banyak spesimen yang masuk dan jenis pemeriksaan yang diminta, sehingga tidak semua spesimen yang datang bisa langsung diperiksa. Penambahan antikoagulan bertujuan supaya darah tidak membeku, sehingga kondisi darah dapat dipertahankan walau tidak langsung diperiksaan atau pemeriksaan memakan waktu yang lama. Setelah dilakukan pemeriksaan, darah yang berantikoagulan bisa disimpan dalam lama waktu tertentu, sehingga apabila harus dilakukan pemeriksaan ulang atau pemeriksaan tambahan lainnya dapat digunakan kembali.

Ada banyak jenis antikoagulan, namun tidak semuanya dapat digunakan karena ada yang terlalu banyak berpengaruh terhadap bentuk/morfologi eritrosit atau leukosit. Antikoagulan yang dapat digunkan :

1. Garam Kalium atau Natrium dari Ethylen Diamine Tetra Asetat (EDTA)

Garam-garam tersebut mengubah ion kalsium dari darah menjadi bentuk yang bukan ion sehingga pembekuan dapat dicegah. EDTA tidak mempengaruh terhadap besar dan bentuk dari Eritrosit dan leukosit. Selain itu EDTA juga dapat mencegah penggumpalan trombosit, sehingga sangat baik sebagai antikoagulan untuk pemeriksaan trombosit. Antikoagulan EDTA sangat luas pemakaiannya, dapat digunakan untuk kebanyakan pemeriksaan hematologi. Dengan antikoagulan EDTA, sel-sel darah dapat bertahan lebih lama dibanding dengan antikoagulan lain.

Ada tiga macam EDTA, yaitu dinatrium EDTA (Na2EDTA), dipotassium EDTA (K2EDTA) dan tripotassium EDTA (K3EDTA). Dari ketiga jenis EDTA tersebut, K2EDTA adalah yang paling baik dan dianjurkan oleh ICSH (International Council for Standardization in Hematology) dan CLSI (Clinical and Laboratory Standards Institute).

Jumlah EDTA yang Digunakan

-EDTA kering: 1 mg EDTA/1 ml darah

-EDTA cair: 0.01ml EDTA/1 ml darah

EDTA cair (laruatan EDTA 10 %) lebih sering digunakan. Pada penggunaan EDTA kering, wadah yang berisi darah dan EDTA harus digoyang(homogenkan) selama 1-2 menit karena EDTA kering lambat larut. Penggunaan EDTA kurang atau lebih dari ketentuan seharusnya dihindari. Penggunaan EDTA yang kurang dari ketentuan dapat menyebabkan darah membeku. Sedangkan penggunaan yang lebih dari ketentuan dapat menyebabkan eritrosit mengkerut sehingga nilai hematokrit rendah dari nilai yang sebenarnya.Saat ini sudah tersedia,Tabung darah/tabung hampa udara (vacutainer tube) yang berisi EDTA. Tabung EDTA bertutup lavender (Ungu) atau pink seperti yang diproduksi oleh Becton Dickinson.

Pemeriksaan Hematologi yang Menggunakan Antikoagulan EDTA

-Penentuan kadar Hb

-Penentuan Hematokrit

-Penentuan Laju Endap Darah (LED)

-Penentuan Resisitensi osmotik darah

-Penentuan golongan darah

-Perhitungan sel-sel darah, termasuk retikulosit

-Pembuatan apusan darah

2. Natrium Sitrat (Trisodium Citrat)

Natrium Sitrat(Trisodium Citrat) yang digunakan berbentuk larutan 3,2 % dan 3,8%. Antikogulan ini mencegah pembekuan dengan cara mengikat ion kalsium. Antikoagulan Natrium Sitrat tidak toksis sehingga dapat juga digunakan untuk transfusi darah.

Banyaknya Natrium Sitrat yang Digunakan

-Larutan Natrium Sitrat 3,2 % digunakan untuk pemeriksaan soal-soal proses pembekuan darah (Koagulasi) dan agregasi trombosit, Volume:

1 volume antikoagulan : 9 volume darah

- Larutan Natrium Sitrat 3,8 % digunakan pemeriksaan Laju Endap Darah dan Eritrosit Sedimen Rate (ESR), Volumenya :

1 volume antikoagulan : 4 volume darah

Saat ini sudah tersedia Tabung darah/tabung hampa udara (vacutainer tube) yang berisi Natrium sitrat. Tabung sitrat 3,2% bertutup biru terang dan tabung sitrat 3,8% bertutup hitam.

Pemeriksaan Hematologi yang Menggunakan Antikoagulan Natrium Citrat

-Penentuan Laju Endap Darah

-Eritrosit Sedimen Rate (ESR)

-Pemeriksaan soal-soal proses pembekuan darah

-Agregasi Trombosit

-Penentuan golongan darah

-Transfusi darah

3. Heparin

Heparin merupakan antikoagulan yang normal dalam tubuh, namun di laboratorium heparin jarang digunakan dalam pemeriksaan-pemeriksaan di laboratorium karena mahal harganya. Heparin berdaya seperti antitrombin. Heparin bekerja dengan cara menghentikan pembentukan trombin dari prothrombin sehingga menghentikan pembentukan fibrin dari fibrinogen.Heparin tidak mempengaruhi bentuk eritrosit maupun trombosit.

Jenis heparin yang paling banyak digunakan adalah Lithium heparin karena antikoagulan karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion dalam darah.

Banyaknya Heparin yang Digunakan:

-Heparin Kering : 0,1-0,2 mg/ml Darah

-Heparin Cair : 15 IU +/- 2.5 IU/ml darah

Saat ini telah tersedia tabung darah/tabung hampa udara (vacutainer tube) yang berisi heparin. Tabung heparin bertutup Hijau muda (Lithium heparin) dan Hijau (Lithium heparin dengan gel)

Pemeriksaan Hematologi yang Menggunakan Antikoagulan Heparin

-Penentuan hemoglobin

-Penentuan hematokrit

-Penentuan resistensi osmotik

-Penghitungan sel-sel darah

-Penentuan golongan darah

-Transfusi darah

*Heparin tidak bisa digunakan untuk membuat apusan darah karena menyebebabkan dasar yang biru kehitaman bisa dicat dengan cat wright stain.

4. Natrium Oxalat

Bekerja dengan menikat ion Ca, sehingga terbentuk Ca Oxalat yang mengendap. Na oxalat yang digunakan berbentuk larutan 0.1 N

Banyaknya Na-Oxalat yang Digunakan

-Pemeriksaan Plasma Protrombin Time (PPT) : 1 volume darah: 9 volume darah

Pemeriksaan Hematologi yang Menggunakan Antikoagulan Na-Oxalat

- Pemeriksaan Plasma Protrombin Time (PPT)

5. Double Oxalat

Nama lainnya dalah Balance Oxalat Mixture atau antikoagulan dari Heller dan Paul. Antikoagulan ini mengandung kalium oxalat dan ammonium oxalat dengan perbandingan 2:3. Kalium oxalat menyebebkan eritrosit mengkerut, sedangkan ammonium oxalat menyebabkan eritrosit mengembang. Campuran kedua garam tersebut bertujuan untuk menghindari perubahan perubahan volume eritrosit.

Banyaknya Antikoagulan Double Oxalat yang digunakan:

-Double oxalat kering : 2 mg Double oxalat / 1 ml darah

-Double oxalat cair 2%: 0.1 ml Double oxalat/ 1 ml darah

Double oxalat digunakan dalam bentuk kering. Sebelum ditambahkan darah, double oxalat cair yang dimasukkan kedalam tabung penampung darah harus di keringkan terlebih dahulu pada suhu yang kurang 600C, menghindari perubahan menjadi Karbonat (Sifat antikoagulannya hilang).

Pemeriksaan Hematologi yang Menggunakan Antikoagulan Double Oxalat

-Penentuan hemoglobin

-Penentuan hematokrit

-Penentuan Laju Endap Darah (LED)

-Penentuak resistensi eritrosit

-Penentuan golongan darah

Referensi :

-Diktat Praktikum Hematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

-Buku Penuntun Laboratorium Klinik (Ganda Soebrata)

-Antikogulan dari http://labkesehatan.blogspot.com/2009/11/antikoagulan.html

-Kode Warna Tabung Vaku dari http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2011/04/kode-warna-tabung-vakum.html

Pemeriksaan Laboratorium Hitung Jumlah Trombosit (Antal Trombosit) Darah

Trombosit adalah jenis sel darah yang berfungsi utama dalam proses pembekuan darah (Hemostasis). Menurut hipotesis dari J.W Wright (1986) trombosit merupakan bagian dari sitoplasma megakariosit. Teori tersebut didukung oleh beberapa hasil observasi yang disimpulkan:

-Trombosit dan megakariosit pada fetus ditemukan bersamaan.

-Pada percobaan edukasi trombositosis memperlihatkan adanya peningkatan mergakariosit.

-Ada persamaan sitokiimia antigenik antara trombosit dan megakariosit.

-Pemberian radioisotope dalam megakariosit ternyata kemudian dijumpai juga pada trombosit.

-Observasi langsung yang memperlihatkan troombosit dihasilkan oleh megakariosit.

Pemeriksaan Laboratorium Hitung Jumlah Trombosit (Antal Trombosit) Darah

Metode :

Direct counting dengan bilik hitung

Prinsip :

Darah diencerkan dengan Ammonium oxalate 1 % maka sel-sel selain trombosit dan eritrosit dilisiskan dan darah menjadi lebih encer sehingga trombosit lebih mudah dihitung. Jumlah trombosit dihitung dalam bilik hitung di bawah mikroskop dengan perbesaran sedang.

Reagensia :

-Larutan Amonium Oksalat 1% (Bisa juga digunakan Rees Ecker)

Alat-alat :

1. Tabung reaksi

2. Pipet 20 µl (adjusted), 2000 µl

3. Bilik hitung Improved Neubauer

4. Cawan Petri

5. Mikroskop

6. Counter

Spesimen : Darah EDTA

Cara Kerja :

1. Dipipetkan 2000 µl reagen ammonium oxalat 1% dan masukkan dalam tabung reaksi

2. Ditambahkan ke dalam tabung 20 µl specimen darah, campur hingga homogen

3. Cairan tersebut (reagen+darah) dipipet dengan pipet tetes, kemudian sentuhkan ujung pipet itu dengan sudut 300 pada permukaan kamar hitung dan menyinggung pinggir kaca penutup. Biarkan kamar hitung terisi cairan dengan daya kapilaritasnya.

4. Letakkan kamar hitung kedalam cawan petri yang didalamnya ada kertas tissue yang sudah dibasahi, inkubasi selama 15 menit.

5. Periksa dibawah mikroskop lensa obyektif 40X

6. Hitung trombosit. Perhitungan dilakukan dalam kotak eritrosit yaitu dalam 10 kotak sedang.

Perhitungan :

Jumlah Trombosit = N/V x P

N= Jumlah Sel

V=Volum bilik hitung = 0.04 mm3

P= Pengenceran = 101 x

Nilai Normal

Jumlah Trombosit normal adalah 150.000 – 400.000 sel/mm3 darah

Interpretasi Hasil

1.Trombositopeni : Trombositopenia adalah istilah keadaan dimana jumlah trombosit dibawah jumlah normal. Penurunan sampai dibawah 10.000 sel/mm3 darah berpotensi untuk terjadinya pendarahan dan hambatan pembekuan darah. Penyebab trombositopenia:

-Penurunan masa hidup, sekuestrasi/pemecahan abnormal : Terjadi pada Hopersplenisme,Trombopoetik Trombositopenia Pupura,Uremik Hemolitik, DIC, Sepsis,Trombositopenia Imun

-Penurunan Produksi : Terjadi pada Mieloptisis, kelainan-kelainan sumsum tulang primer, infeksi, pengaruh obat-obatan tertentu.

-Produksi yang tidak efektif : Terjadi pada proses ,megaloblastik

2.Trombositosis : Trombositopenia adalah istilah keadaan dimana jumlah trombosit diatas jumlah normal. Penyebab lazim trombositosis :

-Kelainan-kelainan Mieloproliferastif:

Terjadi pada Polisitemia vera, myeloid agranulosit, leukemia granulositik kronik, (Trombositopenia primer)

-Trombositosis sekunder:

Dapat disebabkan oleh peradangan, keganasan, penyakit hodgin, perdarahan akut, pasca splenoktomi,reboun dari defisiendi besi yang parah.

Referensi :

Penuntun Laboratorium Klinik (R.Gandasoebrata)

Buku Saku Mengenal Penyakit (Sutedjo)

Buku Saku Hematologi (Larry Water Burry)

Petunjuk Praktikum Hematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Pemeriksaan Laboratorium Jumlah Leukosit (Antal Leukosit) Darah

Mikroskop untuk Pemeriksaan Jumlah Leukosit

Sel darah putih jenis sel darah yang berfungsi untuk mengenali dan melawan mikroorganisme pada reaksi imun,serta membantu proses peradangan dan penyembuhan.

Pemeriksaan Laboratorium Jumlah Leukosit (Antal Leukosit) Darah

Metode : Direct counting

Prinsip :

Darah diencerkan lalu dihitung jumlah leukosit dalam volume tertentu, dengan mengalikan faktor perhitungan diperoleh jumlah leukosit dalam satuan volume darah. Larutan TURK berfungsi untuk mengencerkan darah, melisiskan sel darah selain leukosit sehingga memudahkan perhitungan. Jumlah leukosit dihitung dibawah mikroskop.

Reagensia : Larutan TURK

Komposisi larutan TURK :

-Asam asetat glacial 2,5% 15 ml

-Gentian violet 1 ml

-Aquades 475 ml

Alat-alat :

-Tabung reaksi

-Transferpet 20 µl dan 500 µl

-Bilik hitung Improved Neubauer

-Mikroskop

-Counter

Spesimen : Darah EDTA

Cara Kerja :

1.Ke dalam tabung dimasukkan 500 µl larutan TURK kemudian diambil

2.Sebanyak 20 µl darah ditambahkan kedalam tabung yang telah berisi larutan TURK, dicampur hingga homogen dan diamkan 3 menit

3.Darah yang telah diencerkan dengan larutan TURK dimasukkan ke dalam bilik hitung

4.Dihitung sel-sel leukosit dibawah mikroskop dengan perbesaran lemah (10x). penghitungan dilakukan dalam 4 kotak besar (kotak leukosit).

Perhitungan:

AL : N/V X P = N/0.4 X 26

Keterangan :

N : jumlah sel yang ditemukan

V : volume bilik hitung = 0.4

P : pengenceran darah = 26X

AL: Jumlah leukosit/ µl

Nilai Normal :

1) Dewasa : 4,0 – 11,0 x 103/µl

2) Anak-anak : 5,0 – 13,5 x103/µl

3) Bayi : 10,0 – 26,0 x103/µl

Kondisi Klinis :

1.Peningkatan jumlah leukosit (diatas normal) dikenal dengan istilah Leukositosis, Leukositosis adalah respon normal terhadap infeksi atau peradangan pada tubuh. Keadaan ini dapat juga dijumpai setelah gangguan emosi, anestesi, olahraga atau selama kehamilan. Leukositosis abnormal dijumpai pada keganasan dan gangguan sumsum tulang.

2.Penurunan jumlah leukosit (dibawah normal) dikenal dengan istilah Leukopeni. Leukopeni dapat disebabkan beberapa hal, termasuk stress berkepanjangan, penyakit tertentu, kekurangan sumsum tulang, radiasi dan kemoterapi. Penyakit sistemik yang parah Lupus eritematosus, leukemia, penyakit tiroid, juga dapat menyebabkan kondisi ini.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More